MAKAM KAWAH TEKUREP

ayooo teman!!!! syapa yg blom berwisata di kota palembang??? kota palembang banyak sekali tempat wisata.. salah satunya ini makam kawah tekurep, Bangunan ini mempunya atap dari beton yang berbentuk kuali tertelengkup/terbalik. Tempat ini dibangun pada tahun 1756 ole Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (Sultan Mahmud Badaruddin I) yang memerintah pada tahun 1724-1758. di komplek ini selain Sultan Mahmud Badaruddin I dimakamkan juga Imam (guru beliau) yaitu Imam Sayid Idrus Al Idrus yang berasal dari Yaman Selatan serta para istri beliau yaitu :

ayoo teman syapa saja istrinya hmhmhmhmhm……

1. Ratu Sepu

2. Ratu Agung

3. Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio)

4. Nyimas Naimah

penasaran tempat wisatanya? dan syapa saja yg dimakamkan disana? bukan hanya empat itu saja lho!!! masih banyak lagi…. pasti teman-teman tidak akan bosan berkunjung dan berwisata di tempat ini. selain itu teman-teman bisa juga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang bermanfaat.

komplek makam ini terletak di kelurahan 3 ilir Kecamatan Ilir Timur II Palembang.

                   

Jika diukur dari tepian Sungai Musi, kompleks makam ini berjarak sekitar 100 meter dari sungai. Di sisi yang menghadap Sungai Musi (arah selatan), terdapat gapura yang merupakan gerbang utama untuk memasuki kompleks makam.

 Ketebalan bangunan pada makam ini mencapai 1M. Oleh karena itu, bangunan-bangunannya tidak pernah direnovasi karena masih sangat kokoh. Hanya saja pengecatan pada temboknya saja lebih ditingkatkan.

Situs Peninggalan sejarah Taman Bukit Siguntang/Cultural Heritage “Siguntang Hill Park”

 

translite indonesian

Kemasyhuran Bukit Seguntang tidak hanya berkutat di Palembang, tetapi menyebar hingga ke seluruh Sumatera, Malaysia, dan Singapura. Kawasan perbukitan di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Sumatera Selatan, itu menjadi cikal bakal pertumbuhan Kerajaan Melayu. Hingga kini bukit tersebut masih kerap dikunjungi wisatawan asing.

Mengikut teks Sejarah Melayu, Bukit Seguntang adalah tempat Wan Empuk dan Wan Malini berhuma hingga padinya berbuahkan emas, berdaunkan tembaga dan berbatangkan suasa apabila tiga anak Raja Suran, Sang Nila Pahlawan, Krisyna Pendita dan Sang Nila Utama, turun di bukit itu.

Bukit Seguntang memang cikal bakal Kerajaan Malaka. Bukit Seguntang pernah menjadi pusat Kerajaan Palembang yang dipimpin Parameswara, adipati di bawah Kerajaan Majapahit.

Sekitar tahun 1511, Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke Malaka. Di sana dia sempat bentrok dengan pasukan Portugis yang hendak menjajah Nusantara. Adipati itu menikah dengan putri penguasa Malaka, menjadi raja, dan menurunkan raja-raja Melayu yang berkuasa di Malaysia, Singapura, dan Sumatera.

Sekitar tahun 1554 muncul Kerajaan Palembang yang dirintis Ki Gede Ing Suro, seorang pelarian Kerajaan Pajang, Jawa Tengah. Kerajaan ini juga mengeramatkan Bukit Seguntang dengan mengubur jenazah Panglima Bagus Sekuning dan Panglima Bagus Karang.

Kedua tokoh itu berjasa memimpin pasukan kerajaan saat menundukkan pasukan Kasultanan Banten yang menyerang Palembang. Sultan Banten, Sultan Hasanuddin, tewas dalam pertempuran sengit itu. Tetapi, ada juga versi sejarah yang menyebutkan, makam Bagus Sekuning yang sebenarnya justru ada di kawasan Bagus Kuning, di Plaju, Palembang.

Jauh sebelum itu, Bukit Seguntang menjadi pusat keagamaan pada masa Kerajaan Sriwijaya yang berkembang sampai abad ke-14. Sejumlah peninggalan dari kerajaan yang didirikan Dapunta Hyang Srijayanasa itu ditemukan di sini. Ada kemudi kapal Sriwijaya yang ditemukan di kaki bukit, ada arca Buhda Amarawati, dan prasasti Bukit Seguntang yang menjadi bukti penting keberadaan Sriwijaya.

Bukit Seguntang memang merupakan kawasan yang dikeramatkan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, pemerintahan perwakilan Majapahit, dan Kerajaan Palembang. Sampai sekarang pun bukit itu masih dikeramatkan dengan diziarahi banyak pengunjung, mengingat di tempat inilah dimakamkan beberapa tokoh penting dari zaman kerajaan.

Tokoh-tokoh tersebut di antaranya, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, Panglima bagus Kuning, Panglima Raja batu Api, bahkan disebut-sebut di sinilah Alexander The Great dimakamkan.

Pengunjung dapat mengurai sejarah Sumatera, Melayu, dan Palembang dengan menelusuri sejarah Bukit Seguntang. Namun, teks penjelasan yang minim membuat sejarahnya menjadi kabur. Saat ini bukit itu lebih banyak diziarahi orang untuk berdoa, tanpa tahu sejarah yang tertoreh di bukit ini.

translite english

Notoriety Hill Seguntang not just struggling around Palembang only,
but it spread to the whole of Sumatra, Malaysia, and Singapore. Hilly region in Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, South Sumatra, it became the forerunner to the growth of the Malay Kingdom. Until now the hill is still frequented by foreign tourists.

Following text Malay History, Mount Seguntang is where Wan Empuk and Wan Malini until rice planting fruit of gold, copper and leaved suasa trunked,
when three children Raja Suran, Sang Nila Pahlawan, Krisyna Pendita and Sang Nila Utama, fell on the hill.

Hill was the forerunner Seguntang kingdom of Malacca. Seguntang hill once the center of Palembang Kingdom led Parameswara, duke under the Majapahit Kingdom.

Around the year 1511, Parameswara broke away from the Majapahit and migrated to Malacca. There he had clashed with Portuguese troops who want to colonize the archipelago. Duke was married to the daughter of the ruler of Malacca, became king, and reduce the kings of the ruling Malay in Malaysia, Singapore, and Sumatra.

Around the year 1554 show that pioneered the kingdom of Palembang Ki Gede Ing Suro, a fugitive Kingdom Pajang, Central Java. The kingdom was also mengeramatkan Hill Seguntang with burying the Good Sekuning Commander and Commander of the Great Reef.

Both figures were credited with leading the bow when the royal army troops who attacked Palembang Sultanate of Banten. Sultan of Banten, Sultan Hasanuddin, were killed in fierce fighting that. However, there is also a version of history that says, tomb Bagus Sekuning which actually exist in the region Bagus Kuning, in Plaju, Palembang.

Long before that, Hill Seguntang a religious center in the kingdom of Srivijaya that developed until the 14th century. A number of relics of the kingdom which was established Dapunta Hyang Srijayanasa was found here. There are steering the ship Sriwijaya found at the foot of the hill, there are statues of Buddha Amarawati, and inscriptions Hill Seguntang who became important evidence the existence of Srivijaya.

Seguntang Hill is indeed a sacred area since the time of the Kingdom of Sriwijaya, Majapahit representative government, and the kingdom of Palembang. Even now it still sacred hill to go to a lot of visitors, considering this is where buried some important figures of the royal era.

These figures are among them, Princess Kembang Dadar, Princess Rambut Selako, Commander Bagus Kuning, Commander Raja Batu Api, even a mention in here that Alexander the Great was buried.

Visitors can unravel the history of Sumatra, Malay, and Palembang with tracing the history of the Mount Seguntang. However, the lack of explanatory text to make its history have become blurred. Today it is more frequently visited hill people to pray, without knowing the history that happened on this hill nock

 

BUKIT SIGUNTANG

daerah ini terletak diatas ketinggian 27 meter dari permukaan laut, tepatnya di kelurahan bukit lama. tempat ini sampai sekarang masih dikramatkan karena di sini terdapat beberapa makam diantaranya:

1. Raja Si Gentar Alam

2.Putri Kembang Dadar

3. Putri Rambut Selako

4. Panglima Bagus Kuning

5. Panglima Bagus Karang

6. Panglima Tuan Junjungan

7. Panglima Raja Batu Api

8. Panglima Jago Lawang

Berdasakan hasil penemuan tahun 1920 di sekitar bukit ini telah ditemukan sebuah patung (arca) Budha bergaya seni Amarawati yang raut wajah srilangka berasal dari abad XI masehi yang sekarang diletakan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Kita dapat melihat panorama kota Palembang dari ketinggian bukit siguntang dengan menempuh kendaraan umum jurusan bukit besar.

 

 

 

MAKAM GEDE ING

 PALEMBANG MILIK KITO BERSAMO
             PALEMBANG KOTA ELOK DAN CINDO NIAN!!!!!!
     Merupakan kompleks pekuburan Islam yang dibangun pertengahan abad XVI, taman ini terletak di Kelurahan I Ilir.  Terdapat 38 makam, diantaranya makam Ki Gede Ing Suro yang merupakan cikal bakal Sultan Palembang.  Menurut sejarah, pada tahun 1552 Ki Gede Ing Suro mendirikan Kerajaan Palembang.
     Kota Palembang hingga kini masih dipercayai masyarakat Melayu sebagai tanah leluhurnya. Menurut kisah, di kota inilah hadir seorang tokoh yang menjadi cikal bakal Raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Pada saat yang bersamaan, Kerajaan Sriwijaya runtuh, maka bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di hilir Sungai Musi, Si Gentar Alam di daerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, Panglima Gumay di sepanjang Bukit Barisan. Kemudian Parameswara meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama menuju Tumasik. Tanah Tumasik diberi nama Singapura oleh Parameswara.
 
makam gede ing suro
 
    Pada saat pasukan Majapahit akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka, kemudian mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Hubungan dagang yang kuat dengan orang–orang Gujarat dan Persia menyebabkan perekonomian Malaka berkembang pesat. Kemudian Parameswara memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. 
      Kota Palembang menjadi kota tak bertuan, tidak ada penguasa tunggal atas kota dagang ini. Namun kegiatan perekonomian tetap berjalan. Perdagangan antarbangsa berjalan dengan baik. Di kota ini pula bermukim para pembesar dan priyayi pendukung utama Kesultanan Demak, penguasa baru tanah Jawa. Mereka menyingkir dari Demak setelah kalah perang melawan Kerajaan Pajang pada tahun 1528. Rombongan asal Demak ini dipimpin oleh Kiai Gedeng Suro atau Ki Gede Ing Suro. Selain pembesar dan priyayi, turut serta pula pasukan yang dipimpin oleh Raden Patah. Mereka memilih Palembang sebagai tempat yang aman. Selain karena Raden Patah (bergelar Jimbun Abdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama) adalah bangsawan Demak kelahiran Palembang. Beliau tumbuh sejak kecil di kota ini bersama ibunya, Putri Campa.
      Raden Patah, Ario Damar dan Pati Unus, adalah tokoh dibalik hancurnya Kerajaan Majapahit. Mereka dikenal dari Ekspedisi Pamalayu. Raden Patah berhasil membangun kembali Palembang setelah Kerajaan Sriwijaya secara perlahan mulai melemah. Berselang kemudian, Majapahit mulai dilanda kekacauan, pemberontakan dan pecahnya perang saudara. Ario Damar sendiri pada saat itu adalah seorang Mangkubumi Kerajaan Sriwijaya. Beliau memeluk Islam sejak kedatangan Raden Rahmat. Menjadi seorang muslim, Ario Damar mengganti namanya menjadi Ario Abdullah, yang populer dengan sebutan Ario Dillah.
     Kehadiran Ki Gede Ing Suro di kota Palembang, memicu kedatangan pemukim-pemukim muslim baru dari Demak, Pajang dan Mataram. Mereka datang ke Palembang demi menghindari konflik politik berkepanjangan di tanah Jawa. Jumlah pemukim muslim di kota Palembang meningkat. Peluang ini dijadikan momentum untuk memperteguh pengaruh Islam di Palembang menjadi sebuah kerajaan. Pemukim muslim mendirikan masjid yang berdekatan dengan Keraton Kuto Gawang. Sejak saat itu, Islam tumbuh pesat sebagai pedoman hidup pada hampir seluruh masyarakat Palembang.
    Sebuah kerajaan Islam di Palembang akhirnya resmi berdiri pada tahun 1552 secara politik dari Kesultanan Demak. Adalah Ki Mas Hindi, disebut pula Pangeran Ratu atau Pangeran Ario Kusuma Abdurrohim, yang memiliki nama lain, Susuhunan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayyidul Imam, sebagai Sultan pertama kerajaan Islam di tanah Palembang. Beliau bergelar Sultan Jamaluddin Candi Walang, atau Sultan Ratu Abdul Rahman. Kerajaan Islam ini diberi nama Kesultanan Palembang Darussalam.
Sultan Jamaluddin kemudian diganti oleh Sultan Mansyur. Beliau didampingi seorang ulama besar, Tuan Faqih Jalaluddin. Setelah Sultan Mansyur, Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin, yang dikenal pula sebagai Sultan Lemah Abang. Kesultanan Palembang Palembang Darussalam menggabungkan kebudayaan maritim peninggalan Sriwijaya dan budaya agraris Majapahit. Palembang kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka.
     Hadirnya Kesultanan Palembang Darussalam ini menjadi lembaran baru bagi kota Palembang sejak keruntuhan Sriwijaya. Hukum Islam diterapkan dalam aturan tatanegara dan ekonomi. Ki Gede Ing Suro merupakan tokoh utama dibalik berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam. Setelah wafat pada tahun 1587, beliau dimakamkan di sebuah daerah yang kini berada di Kelurahan I Ilir, kota Palembang. Setelah beliau dimakamkan, berturut-turut dimakamkan para pembesar Demak lainnya dan keluarganya, hingga mencapai 38 makam. Kompleks pemakaman ini kemudian dikenal sebagai Taman Purbakala Ki Gede Ing Suro.
      Kompleks makam berupa bangunan fondasi yang terdiri dari tiga bangunan utama. Bangunan pertama memiliki luas 54 meter persegi, dengan tinggi 1,2 meter. Bangunan ini berdiri diatas dua lapik, lapik pertama berukuran 7 meter x 3,7 meter. Lapik kedua berukuran 16 meter x 11 meter. Diatasnya berdiri batur dengan tangga masuk yang berada di sisi selatan. Pada dinding batur terdapat panil berbentuk bujursangkar berpola hias geometris. Pada teras makam terdapat dua nisan dari kayu persegi pipih. Bangunan kedua memiliki ukuran 8,45 meter x 5 meter dengan tinggi 90 sentimeter. Berdiri diatas satu lapik. Pola hias tangga sama dengan bangunan pertama. Disini terdapat tiga makam, dua makam di sisi utara, dan satu makam di sisi selatan. Jirat makam di sisi selatan berbentuk persegi panjang. Nisan makam terbuat dari batu andesit, puncaknya berbentuk kurawal dengan ujung meruncing.
       Bangunan ketiga adalah yang terbesar, memiliki ukuran 8,75 meter x 9 meter. Memiliki teras berukuran 12,5 meter x 11,5 meter. Hiasan bangunan utama berupa ukiran bunga dan geometris. Pada teras hiasannya berupa sulur. Diatas bangunan terdapat tiga nisan makam yang bentuknya sama dengan bangunan kedua.

KANTOR WALI KOTA PALEMBANG (LEDENG AIR/MENARA AIR)

Kantor Ledeng (kantor walikota) atau Menara Air dulunya tempat ini untuk menampung air untuk didistribusikan ke wilayah kota, sekarang tempat ini menjadi kantor Walikota Palembang, bangunan ini unik, indah dan menjadi salah satu icon kota Palembang. 

Pembangunan Menara Air, yaitu instalasi pengolahan air bersih pada masa Walikota Palembang dijabat Ir. R.C.A.F.J. Le Cocq d Armandville dapat dikatakan sungguh luar biasa. Pasalnya, saat itu keuangan Haminte (Gemeente) Palembang sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Ketika tercetus ide untuk membangun Menara Air, akhirnya dikenal sebagai Kantor Ledeng.

Pada tahun 1928, utang Haminta Palembang sudah menumpuk. Untuk pajak jalan dan jembatan saja, mencapai 3,5 ton emas, Ini belum lagi keterpurukan akibat parahnya sistem administrasi. Setahun kemudian, 1929, setelah pembuatan master plan kotyaoleh Ir. Th. Karsten, dibangunlah sarana air bersih. Selain bangunan berupa menara saat ini, Bangunan yang dibangun pada tahun 1928 selesai di bangun pada 1931 ini didirikan dengan gaya de stijl, yaitu memiliki bentuk dasar kotak dengan atap datar. dengan menghabiskan biasa +/- 1 ton emas.

Pendistribusiannya dikenal sebagai sistem gravitasi setinggi 35 meter dan luas bangunan 250 meter persegi. Bak tampungnya berkapasitas 1.200 meter kubik merupakan cara yang efektif pada saat itu untuk pendistribusian air sampai ke daerah klonial dan daerah pasar 16 ilir, segaran dan sekitranya

Arsitek yang menangani pembangunan gedung juga dimanfaatkan sebagai Kantor Haminte dan Dewan Kota ini adalah Ir. S. Snuijf. Dipilihlah lokasi gedung di tepi Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak. Sehingga pada masa itu, posisi Kantor Ledeng tepat di tepian air. Namun kemudian, seiring dengan pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Sekanak, Sungai Kapuran pun ditimbun. Akibatnya dapat diduga. Jalan yang melintas di depan Kantor Ledeng itu pun mengalami banjir saat musim hujan disertai pasang naik Sungai Musi. Ini terlihat pada sebuah foto yang berangka tahun 1930-an.

Bangunan ini berdiri pada tahun 1928 yang dulunya dikenal dengan sebutan Water Tower (Menara Air) atau disebut masyarakat Palembang sebagai Kantor Ledeng. Pada Zaman Jepang pada tahun (1942 – 1945) Balai Kota (Kantor Menara Air) dijadikan Kantor Syuco-kan (Kantor Residen) dan terus dimanfaatkan sebagai balaikota sampai dengan tahun 1956.Bangunan Kantor Walikota Palembang sejak awal telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang.

Pada saat Kemerdekaan RI diproklamasikan, 17 Agustus 1945, Kantor Ledeng menjadi saksi heroisme pemuda di Palembang. Para pejuang yang terdiri atas bekas opsir Gyu Gun, yaitu Hasan Kasim, M. Arief, Dany Effendy, Raden Abdullah (Cek Syeh), Rivai, dan mantan opsir Gyu Gun lainnya, bekerja sama dengan kelompok pemuda yang dipimpin Mailan beserta pembantunya, Abihasan Said dan Bujang Yacob. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan di empat sisi atas Kantor Ledeng. yang difungsikan sebagai penampungan air bersih dengan kapasitas 1200 m3.Tanggal 21 Agustus 1963 Perusahaan Water Ledeng dipindahkan menjadi salah satu tehnik air bersih di Dinas Pekerjaan Umum Kota Praja Palembang. Sejak Saat itu (1963) Kantor Menara Air berubah menjadi Kantor Pusat Pemerintahan Kota Praja Palembang yang sekarang disebut Kantor Walikota

GAMBAR

 

 

 

 

JEMBATAN AMPERA

PALEMBANG

Jembatan inib di bangun diatas Sungai Musi dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter dan tinggi di atas permukaan air 11.50 meter, Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah,Jarak antara menara : 75 m, Berat : 944 ton, . dengan dana rampasan perang dari pemerintahan Jepang atas perintah Soekarno.

Orang menyebutnya jembatan AMPERA karena pemakaiannya secara resmi di lakukan saat masa menegakkan orde baru yang sebelumnya bernama jembatan MUSI. Jembatan AMPERA berarti jembatan Amanat Penderitaan Rakyat.

Bagian tengah jembatan ini dulu dapat diangkat dan dilalui kapal yang tingginya maksimum 44.50 metersedangkan bila tidak diangkat hanya 9 meter, namun pada saat ini mobilitas penduduk semakin tinggi dan jumlah kendaraan bertambah banyak serta dasar lain yang bersifat teknis maka tahun 197-an jembatan tersebut tidak dapat dinaikkan bagian tengahnya.

jembatan ampera masa dahulu

 

 

jembatan ampera masa sekarang

 

Sejarah :

Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang ”Seberang Ulu dan Seberang Ilir” dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906.

Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi.

 

Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk nama Sungai Musi yang dilintasinya pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergo-long nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal hanya sekitar Rp 30.000,00.

 

Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).

 

 

 

 

PEMBANGUNAN jembatan gerak ini dimulai pada bulan April 1962, setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno. Biaya pembangunannya diambil dari dana rampasan perang Jepang dalam kata lain Semua di tanggung oleh pemerintah jepang dari kontraktor dan pekerja.

 

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

 

 

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia tenggara. Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 Oleh Letjend Ahmad Yani ( sore hari Pak Yani Pulang dan subuh 1 Oktober 65 menjadi Korban Gestok), sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera. tetapi masyarakat palembang lebih suka memanggil jembatan ini dengan sebutan “Proyek Musi”. Sekitar tahun 2002, ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno sebagai nama Jembatan Ampera ini. Tapi usulan ini tidak mendapat dukungan dari pemerintah dan sebagian masyarakat.

 

 

 

 

Meskipun jembatan ini sudah tidak bisa diangkat bagian tengahnya, kapal yang tidak terlalu tinggi masih bisa melewati kolongnya

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

Sejak tahun 1970, Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dua daerah Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

 

Alasan lain karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi. Pendangkalan yang semakin parah menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa dilayari kapal berukuran besar. Sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan . Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit. Pada tahun 1990, dua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan, yang masing-masing seberat 500 ton, dibongkar dan diturunkan karena khawatir jika sewaktu-waktu benda itu jatuh dan menimpa orang yang lewat di jembatan

 

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

 

Jembatan Ampera pernah direnovasi pada tahun 1981, dengan menghabiskan dana sekitar Rp 850 juta. Renovasi dilakukan setelah muncul kekhawatiran akan ancaman kerusakan Jembatan Ampera bisa membuatnya ambruk. Bersamaan dengan eforia reformasi tahun 1997, beberapa onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri. Pencurian dilakukan dengan memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi. Warna jembatan pun sudah mengalami 3 kali perubahan dari awal berdiri berwarna abu-abu terus tahun 1992 di ganti kuning dan terakhir di tahun 2002 menjadi merah sampai sekarang.

 

 

 

 

Saat ini, berkembang wacana tentang pentingnya pembangunan Jembatan Musi III dan Musi IV, yang menghubungkan antara Seberang Ilir dan Seberang Ulu Palembang. Pembangunan dua jembatan dimaksudkan agar Jembatan Ampera tidak kelebihan beban kendaraan yang melintas, sekaligus untuk lebih membuka kawasan Seberang Ulu. Harapan sebagian warga Palembang yang ingin melihat Jembatan Ampera seperti dulu, agaknya sulit terwujud. Tetapi menurut riset terakhir pemerintah Jepang Jembatan Ampera masih tetap kokoh sampai 50 tahun lagi. dan akan segera di lakukan renovasi ulang oleh kontraktor Jepang , tetapi dengan catatan Jembatan harus di tutup selama 2 Tahun.

INDAHNYA JEMBATAN AMPERA DIMALAM HARI

 

Mengunjungi Kota Palembang, Sumatera Selatan, kurang afdal jika tidak mengunjungi ikon kota tersebut, yakni Jembatan Ampera di Jalan Sultan Mahmud Badarudin. Jembatan yang memotong Sungai Musi itu sangat indah dilihat pada malam hari. Lampu yang menyala pada dua kawat besar penahan sisi kiri dan kanan serta dua tiang tembok di atas jembatan memberi kesan indah pada bangunan yang didirikan pada tahun 1962 itu.

Lampu mobil-mobil yang berlalu lalang ikut menghiasi Jembatan Ampera, sehingga dari kejauhan tampak jembatan tersebut seperti diberi lampu kelap-kelip. Pantulan cahaya dari lampu Jembatan Ampera di Sungai Musi juga menambah cantiknya jembatan yang dibangun pada era kepemimpinan Soekarno itu. Sesekali juga akan terlihat lampu kecil di atas Sungai Musi. Lampu tersebut adalah penerang kapal kecil yang kerap melintasi Sungai Musi.

Indahnya Jembatan Ampera pada malam hari bisa dilihat dari pelataran Benteng Kuto Besak yang berada sekitar 800 meter dari sisi kiri jembatan. Ruang publik itu berada tepat di sisi Sungai Musi seberang Ulu.

“Jembatan Ampera bisa dinikmati dari sini juga (pelataran Benteng Kuto Besak), dan akan terlihat indah jika malam hari,” ucap Wildan, salah seorang pengunjung yang kebetulan bersama Kompas.com, Kamis (29/3/2013) malam. Wildan adalah warga Kota Bandung yang kebetulan sedang menggarap proyek tower operator seluler di Palembang.

Memang, sebagian besar pengunjung Kota Palembang kerap menikmati megahnya Jembatan Ampera pada malam hari dari pelataran Benteng Kuto Besak. Apalagi, di kawasan yang cukup luas itu berjejer pula para pedagang yang menyediakan makanan dan minuman. Beberapa di antaranya ada yang menjual pempek bakar, mi tektek, dan minuman ringan plus kerupuk khas Palembang.

Para pedagang ini menempatkan lapak jualannya berderet menghadap Benteng Kuto Besak dan membelakangi Sungai Musi. Mereka juga menyediakan kursi duduk plastik yang pendek persis seperti kursi untuk anak-anak. Kursi-kursi tersebut diletakkan menghadap Jembatan Ampera dan Sungai Musi. Rupanya para pedagang sengaja menempatkan kursi sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa memandang Jembatan Ampera sambil menikmati makanan yang dijajakan.

Setiap malam, pelataran Benteng Kuto Besak kerap dikunjungi wisatawan atau warga setempat. Tentu saja tujuan utamanya adalah ingin melihat keindahan Jembatan Ampera. Apalagi kalau malam minggu, pengunjung memenuhi pelataran Benteng Kuto Besak untuk menghabiskan akhir pekan mereka bersama keluarga atau orang-orang yang tercinta.

“Kalau malam Minggu dan Senin pelataran ini ramai dikunjungi pengunjung atau wisatawan. Kalau hari-hari biasa, ya pengunjungnya tidak banyak,” kata Kamaludin, salah seorang pedagang minuman ringan. Kamaludin mengaku sudah 20 tahun berjualan minuman ringan di pelataran Benteng Kuto Besak. Kamis malam memang bukan momen hari libur.

Namun demikian, terlihat ada beberapa pengunjung, baik yang sudah berkeluarga maupun pasangan muda-mudi yang kongko di pelataran Benteng Kuto Besak. Kebanyakan dari mereka duduk-duduk di pagar tembok pinggir Sungai Musi. Pagar tersebut tingginya sekitar satu meter dan bagian atas lebarnya sekitar setengah meter sehingga bisa dijadikan tempat duduk para pengunjung.

Sesekali muncul pengamen yang mengais rezeki dengan “konser” di depan para pengunjung. Mirip di Malioboro, Yogyakarta, para pengamen ini seperti antre bergiliran menunjukkan kebolehan menyanyi demi mendapatkan uang receh dari pengunjung. Dengan demikian, jika Anda mengunjungi pelataran Benteng Kuto Besak, sediakan pula banyak uang recehan.

Tarif parkir Rp 5.000, Mobil aman

Anda yang membawa kendaraan untuk mengunjungi pelataran Benteng Kuto Besak tidak usah khawatir. Di sana juga tersedia tempat parkir yang cukup aman. Hanya cukup memberi uang Rp 5.000 ke tukang parkir, maka kendaraan Anda akan dijaga.

“Parkir mobil Rp 5.000, Bang. Kami akan menjaganya,” kata seorang pria sambil meniupkan peluit, khas tukang parkir. Untuk parkir sepeda motor, pria itu mematok tarif Rp 2.000. Katanya sih memang standarnya seperti itu di pelataran Benteng Kuto Besak.

Sebenarnya tempat yang dijadikan parkir kendaraan itu bukan kawasan khusus parkir. Tempat itu berupa jalan selebar 4 meter yang berada di pinggir pelataran Benteng Kuto Besak. Namun, badan jalan itu kerap dijadikan tempat parkir mobil.

CERITA RAKYAT PALEMBANG (PUTRI KEMBANG DADAR)

Ribuan tahun yang lalu sebelum berdiri kerajaan  besar, telah berdiri  kerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki rajanya masing-masing.
Salah satu kerajaan itu adalah kerajaan Hulu, juga berdirinya kerajaan yang dinamakan kerajaan Hilir.
Diantara kerajaan ini terjadi suatu perselisihan, sehingga tampaknya tak pernah damai diantara keduanya, ada saja keributan yang terjadi diantara mereka.
Disebuah pendopo kerajaan Hilir terlihat bersama-sama dengan para penggawanya dan juga para prajurit kerajaan, sepertinya tengah mengadakan rapat.
Sepertinya raja Hilir tengah memimpin sebuah rapat, tampak  jelas ada masalah yang penting tengah mereka bahas.
“Apakah persiapan pasukan sudah betul-betul handal?” tanya raja Hilir yang sedang memimpin rapat tersebut.
Seorang Panglima kerajaan berdiri dengan gagahnya,”baginda Raja, pasukan sudah siap untuk berangkat.”
Di luar, dihalaman kerajaan,  para prajurit tengah berbaris siap untuk menerima suatu perintah dari raja mereka , yaitu dari raja Hilir.
Keluarlah Sang Raja  dengah penampilan yang sangat perkasa, sembari ia memperhatikan pada semua yang ada, disaat itu ia berkata,”para prajurit sekalian, saya harapkan tugas kalian kali ini untuk mengalahkan kerajaan Hulu itu akan berhasil.” Perintah raja Hilir pada semua prajuritnya yang hadir.
Setelah mereka mendengarkan perintah dan seruan itu, mereka berangkat dengan penuh semangat sekali.
 
 
                                                        1.
Pasukan kerajaan Hilir berangkat dengan menggunakan perahu yang besar, kini setiap tahun sekali bentuk perahu ini di meriahkan dengan cara lomba bidar.Yaitu setiap pada hari kemerdekaan republik Indonesia atau hari ulang tahun kota Palembang. Disebut perahu Bidar.
Di kerajaan Hulu, seorang prajurit pengintai dengan sangat tergesa-gesa berlari-lari. Sepertinya ia akan menuju atau menghadap raja Hulu yang tengah berada di ruang kumpul istana raja.
“Raja yang mulia, terlihat rombongan pasukan datang kemari,”ungkap prajurit itu ketika ia berada di hadapan raja Hulu.
Dimana pada saat itu Sang raja tengah mengadakan rapat, karena terlihat semua para penggawa dan juga prajurit, serta   panglimanya juga hadir pada waktu itu.
Raja Hulu hanya tersenyum, raja muda yang perkasa itu terdiam sembari ia berkata,”persiapkan pasukan, tunggu mereka datang di perbatasan kerajaan, lalu habisi mereka.”
Ternyata benar bahwa kedatangan pasukan kerajaan Hilir itu, sesungguhnya sudah di ketahui oleh Raja Hulu, sehingga mereka telah mempersiapkan untuk penyambutan kedatangan mereka.
Terdengar dengan lantang seruan dan teriakan, suatu aba-aba penyerangan yang di perintahkan oleh Raja Hulu, sepertinya pasukan Raja Hilir mendengar seruan itu dari arah kiri mereka.
“Kudengar dengan jelas bahwa pasukan itu datang dari arah kiri, ungkap pimpinan pasukan kerajaan Hilir.
Disisi  lain pasukan prajurit kerajaan Hulu tengah bersiap-siap akan menyerang, sambil mereka mengendap-endap dibalik semak belukar itu, yang tepat berada di belakang mereka.
“Aku mendengar langkah yang segera mendekat,”ungkap pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir.
                                                            2.
Mereka merasa yakin bahwa mereka sudah di dekati oleh pasukan dari kerajaan Hulu, jelas menurut mereka itu datang dari sebelah kiri mereka, oleh karena itu mereka tengah mempersiapkan untuk melakukan penyerangan.
“Serang…….kawan-kawan, saya akan memberikan tanda lemparan keatas,”seru pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir, dengan segera ia memberikan tanda  penyerangan.
Serentak saja mereka melakukan penyerangan itu sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemimpin mereka pada waktu itu. Segera saja mereka melakukan penyerangan itu.
Hanya dengan satu teriakan mereka segera melakukannya, namun serangan itu dilakukan betapa sangat terkejutnya mereka bahwa , penyerangan itu sangat sia-sia sekali.
Disaat itulah munculnya serangan dari arah kanan mereka, sehingga dengan  sangat kacau balaunya, pasukan Hilir jadi berantakan, sangat tidak terduga sekali bahwa serangan itu akan datang dari sebalah kanan itu, sehingga pasukan kerajaan Hilir tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Usai perang itu, pemimpin pasukan kerajaan Hulu, hanya dengan mengambil potongan kepala dari pimpinan pasukan kerajaan Hilir saja, hal itu sebagai bukti nyata bahwa pasukan kerajaan Hilir sudah takluk.
Dari pihak kerajaan Hilir, sepertinya sudah mengetahui bahwa prajuritnya yang mereka kirim itu mengalami suatu kekalahan, Raja merasa ini suatu kekalahan yang besar.
Sepertinya raja Hilir marah besar dengan kekalahan ini, ia menjadi merah padam, bertambah berang hatinya, karena mengalami kekalahan ini, ia juga tahu bahwa pimpinan pasukan yang dia kirim juga mati terbunuh.
“Sekarang ingatlah, ini adalah suatu kekalahan yang besar bagi kita, kita harus pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” seru Raja Hilir.
 
                                                                     3.
Para prajurit dan juga para pemimpin, dan juga penasehat Raja disaat itu hanya diam seribu bahasa, mereka tanpa ada suara yang terdengar, mereka hanya pandangi tindak tanduk yang dilakukan Raja.
 
Pada saat itu, seorang putri yang cantik jelita, tengah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ia hadir pada saat itu.
Putri ini sering dipanggil dengan nama Putri Kembang Dadar, kecantikannya sangat terkenal dipenjuru kerajaan, banyak para raja yang tertarik akan kecantikannya.
Sesaat Raja mengatakan, “adakah diantara kalian yang akan sanggup  untuk memimpin pasukan, hal ini bukan kita takuti tapi harus kita lawan.”
Namun tak seorangpun ada yang berani menyatakan pendapatnya, mereka hanya diam.
Raja memandang pada semua arah, pada semua yang hadir pada waktu itu, sehingga ia tertuju pada anak kesayanganya,”wahai anaku, apakah ada pendapatmu tentang kejadian ini, sepertinya kau tampak tenang, tanpa terlihat gelisah apalagi takut.”
Putri Kembang Dadar hanya tersenyum mendengar seruan dari orang tuanya itu, sembari ia berkata,”ayah handa ,jika di izinkan ananda mau berpendapat, tentang persoalan ini.”
Raja memandangnya dengan sangat penuh perhatian sekali, ia pandangi anak kesayangan itu,”silahkan ananda untuk menyatakan pendapatnya, siapa saja yang akan mengajukan pendapatnya.
Mendengar dari ucapan yang disampaikan oleh orang tuanya itu, Putri Kembang Dadar merasa lega, ia senyum dengan lantang ia mengatakan, “ayah izinkan aku untuk berangkat menuju kerajaan Hulu, ananda tak akan pulang jika ananda tidak berhasil.”
 
                                                                 4.
Suatu pernyataan yang tak terduga dari suara anak kesayanganya itu, apalagi anaknya adalah seorang putri , seakan ia tak percaya itu keluar dari hati dan suara yang keluar seorang yang cantik jelita seperti anaknya itu.
“Tidakah ananda  sadar apa yang telah di sampaikan ini, apakah ini suara dari lubuk hati yang paling dalam,”ungkap Raja Hilir kepada anak kesayanganya itu.
Mendengar itu, Raja dari suara hatinya berbisik, betapa berani anaknya ini, tidak perduli bahwa dia seorang perempuan, tak sedikit pun terlihat bahwa ada rasa takut di raut wajahnya.
“Ini aku sampaikan dengan penuh kesadaran, aku sudah bulat tekatku,” ungkap Putri Kembang Dadar , dengan  suara yang merdu, sehingga membuat kagum para hadirin yang ada dalam ruang .
Raja Hilir merasa sangat yakin, apa yang telah disampaikan oleh anaknya itu,”anaku jika itu sudah menjadi tekatmu, tak dapat aku mengahalanginya, aku hanya berdoa kau akan berhasil nantinya.”
Semua yang hadir  terkagum-kagum, mereka memandangi Putri Kembang Dadar , yang berangkat meninggalkan kerajaan Hilir, yang hanya didampingi dengan beberapa orang saja.
Raja Hilir hanya memandang kepergian anaknya, ia tak menduga sama sekali bahwa anaknya yang akan pergi  untuk menyelidik, hal itu juga di iringi oleh para penggawa kerajaan, serta juga disaksikan oleh rakyatnya.
Putri Kembang Dadar Hanya menggunakan pakaian layaknya seorang rakyat biasa saja.Ia  berjalan   dengan gemulainya, mendekati keramaian, ini berada di sekitar istana Raja Hulu.
Walaupun demikian keberadaan Putri Kembang Dadar itu, tetap saja di awasi oleh para prajurit kerajaan dari kejauhan, ia menyamar sebagai seorang penjual sayuran yang berada di pinggiran istana.
Tentu saja penyamaran ini dia lakukan agar melihat dengan dekat wajah Raja Hulu, tentu saja meskipun ia menyamar sebagai seorang tukang sayur, kecantikanya tak dapat di sembunyikan.
                                                                 5.
Disaat itu Raja Hulu yang tampan dan muda belia, sekilas ia memandang bahwa  ada seorang pedagang sayur yang begitu cantiknya,”Prajurit kau panggil  wanita itu, bawa dia kemari!”
Tanpa banyak bicara prajurit itu mendakati pedagang , yang tiada lain itu adalah Putri Kembang Dadar,  yang menyamar sebagai seorang pedagang sayuran.
Putri Kembang Dadar tahu, ia hanya merasa  dan berkata dalam hatinya, bahwa Raja Hulu ternyata adalah seorang yang tampan. Tetapi di juga sadar bahwa ini perangkapnya sudah kena.
Bukan main terpesonanya Raja Hulu, ia hanya berkata dalam hatinya, begitu cantiknya wanita ini, “kau ikut keistana sekarang juga, kau adalah layak jadi seorang permaisuri saja.”
 Ternyata bukan hanya Raja yang terpesona, tetapi beberapa pengikutnya, spertinya sadar bahwa benar bahwa wanita itu memang cantik sekali, tidak salah Raja kita memilih wanita ini, seorang prajurit berbisik lembut.
Bukan itu saja tetapi Sang Raja juga merasa, bahwa menurut hatinya , wanita ini adalah benar bahwa dia bukan orang sembarang, tapi seorang putri yang datang dari langit.
Segera saja raja berserta dengan rombongan dengan memboyong Putri Kembang Dadar ke istana Raja Hulu. Ketika sampai di istana, Raja segera memanggil dayang-dayang,”Hei dayang-dayang ,coba kau ganti pakaian wanita ini lalu kau berikan ia pakaian yang terbaik yang kita punya.Jika tidak ada kau cari di penjuru kerajaan, bila perlu kau beli keluar.”
Sehingga di istana tampak terjadi suatu kesibukan yang mendadak, para prajurit, juga rakyat tersebar sudah bahwa Raja mereka telah menemukan seorang putri yang cantik jelita.
 
 
                                                               6.
Pesan Raja yang disampaikan itu, menjadi suatu kesibukan bagi dayang-dayang, penghias raja itu, menjadi terpesona, ketika ia melihat wanita itu , ia juga ikut kagum dengan kecantikan yang di miliki Putri Kembang Dadar itu, sehingga tanpa sadar dayang itu berkata,”pantas raja jadi bersemangat, kecantikan wanita ini luar biasa, tak satupun ada gadis yang ada di kerajaan ini, yang   dapat menandingi kecantikannya.”
Ketika Putri Kembang Dadar bagun dari tidur, dan ia dihiasai dengan cantiknya oleh dayang, dengan pakaian yang layaknya seorang putri dan calon seorang permaisuri, para penggawa terpesona  melihatnya.
Disaat itulah  muncul Raja Hulu, tetapi ia tersentak  bukan kepalang, ketika  ia melihat Putri Kembang Dadar,  kecantikan itu kini juga disaksikan oleh semua orang yang ada. Semua yang hadir terpikat memandangnya.
Raja Hulu berdiri dengan gagah perkasa, ia memandangi semua prajurit juga para penggawanya, yang juga diwakili oleh rakyatnya yang menyaksikan perayaan itu.
“Para hadirin yang hadir, mulai saat ini , kalian telah memiliki seorang putri, wanita yang ada di hadapan kalian ini adalah sebagai  permaisurinya. Ia adalah yang bernama Putri Kembang Dadar,”jelas Raja Hulu kepada semua penggawanya, juga pada para prajuritnya, dan rakyatnya yang hadir.
Sejak itu Putri Kembang Dadar telah menjadi istri dari Raja Hulu, berita ini sudah sampai pada Raja Hilir. Karena itu dikala Permaisuri Putri Kembang Dadar tengah beristirahat datanglah secara rahasia seorang utusan dari Raja Hilir.
“Katakan saja, bahwa aku  akan segera datang ,”ungkap Permasuri Raja Hulu itu, yang tida lain adalah Putri Kembang Dadar.
Segera saja prajurit itu meninggalkan istana raja Hulu, ia segera menuju pulang, untuk melaporkan keadaan yang terjadi.
 
                                                              7.
Belum prajurit itu tiba di istananya, tetapi Putri Kembang Dadar sudah berada di istana orang tuanya, karena ia dapat menghadirkan diri langsung tanpa harus menggunakan jasat yang menjalani secara kasar seperti manusia   biasanya.
“Anaku kau tampak makin cantik, aku tahu kalau sudah menjadi istrinya Raja Hulu,”tutur Raja Hilir pada anaknya yang kini menjadi  seorang permasuri .
“Ayahanda adalah benar, aku bangga dengan perkawinan ini, namun aku hanya memohon, agar tidak lagi terjadinya suatu permusuhan  diantara kedua kerajaan ini,’ungkap Putri Kembang Dadar pada orang tuanya itu.
Pada akhirnya Putri Kembang Dadar dapat menyatukan kedua kerajaan, sehingga tidak lagi terjadinya permusuhan.
Putri Kembang Dadar, mempersembahkan satu tubuhnya untuk istana kerajaan Hilir, namun di lain pihak ia tetap berada di istana kerajaan Hulu, sehingga terjadilah suatu perdamaian, yang tiada lagi terjadinya perselisihan di antara mereka.
Perdamaian kedua kerajaan menjadi senangnya para rakyat, karena telah menyatukan dua kerajaan yang selama ini bermusuhan kini menyatu, sungguh besar pengorbanan yang dia berikan untuk ini.
Hingga kini kadangkala ia sering di undang oleh para normal secara gaib, itu untuk suatu ritual gaib yang dilakukan para golongan, para normal yang ada di Sumatera Selatan.(kamil)

CARA MEMBUAT EMPEK-EMPEK (PEMPEK) PALEMBANG

1361999968991186963

Resep empek-empek
1. Adonan I ( biang ) : 4 sendok makan tepung terigu, 3 siung bawang putih yang dihaluskan, 200 cc air putih, garam dan gula( pengganti penyedap rasa). Campurkan semua bahan, masak sampa seperti bubur tepung dan dinginkan ( setelah asap hilang aku suka taruh di dalam lemari pendingin)

.
2. Adonan II: 500 gr Ikan tenggiri giling (karena di Baku tidak ada ikan tenggiri, sebagai gantinya aku pakai ikan patin/pangasius atau terkadangg orang memakai ikan tilapia/Nila)), 350 gr tepung sagu atau tapioka, putih telur ayam 1 buah, minyak goreng 1 sendok makan.
3. Didihkan air di panci. Campurkan adonan 1 dan 2 lalu diuleni (hasilnya memang masih lengket). Siapkan tepung sagu di piring, ambil sedikit adonan, gulingkan di tepung sagu sehingga adonan tak lengket di tangan lagi. Bisa juga dengan cara lain, tangan di tempelkan dulu ke dalam tepung sagu, lalu. ambil sedikit adonan. Bentuk lenjer memanjang, dan rebus dalam air yang sudah mendidih sampai mengapung.
Untuk empek-empek kapal selam, siapkan kuning telur (pisahkan dari putihnya). Buat adonan menjadi seperti contong, lalu masukkan kuning telur, bentuk seperti pastel. Rebus sampai mendidih.
Cuko Empek-empek : air 500 cc, siung bawang putih dan cabai merah atau rawit (sesuai selera pedasnya) haluskan, 3 batok gula merah ( aku suka tambahkan gula putih untuk mengentalkan), asam jawa dan garam. Rebus semuanya sampai mendidih, saring. Kalau kurang asam bs ditambah cuka.
Cara penyajian : Ada yang langsung disajikan tanpa digoreng (hobi suami), tapi mayoritas digoreng dahulu, dan sajikan empek-empek dengan cuko, timun dan taburi ebi yang dihaluskan.
Ini resep jauh dari sempurna, maklum kokinya Semarang aseli🙂 , yang penting konsumen dapur setiaku ( suami dan anak lanangku) sudah bilang enak, cukup bagiku…🙂
Selamat mencoba…Resep empek-empek
1. Adonan I ( biang ) : 4 sendok makan tepung terigu, 3 siung bawang putih yang dihaluskan, 200 cc air putih, garam dan gula( pengganti penyedap rasa). Campurkan semua bahan, masak sampa seperti bubur tepung dan dinginkan ( setelah asap hilang aku suka taruh di dalam lemari pendingin)
.
2. Adonan II: 500 gr Ikan tenggiri giling (karena di Baku tidak ada ikan tenggiri, sebagai gantinya aku pakai ikan patin/pangasius atau terkadangg orang memakai ikan tilapia/Nila)), 350 gr tepung sagu atau tapioka, putih telur ayam 1 buah, minyak goreng 1 sendok makan.
3. Didihkan air di panci. Campurkan adonan 1 dan 2 lalu diuleni (hasilnya memang masih lengket). Siapkan tepung sagu di piring, ambil sedikit adonan, gulingkan di tepung sagu sehingga adonan tak lengket di tangan lagi. Bisa juga dengan cara lain, tangan di tempelkan dulu ke dalam tepung sagu, lalu. ambil sedikit adonan. Bentuk lenjer memanjang, dan rebus dalam air yang sudah mendidih sampai mengapung.
Untuk empek-empek kapal selam, siapkan kuning telur (pisahkan dari putihnya). Buat adonan menjadi seperti contong, lalu masukkan kuning telur, bentuk seperti pastel. Rebus sampai mendidih.
Cuko Empek-empek : air 500 cc, siung bawang putih dan cabai merah atau rawit (sesuai selera pedasnya) haluskan, 3 batok gula merah ( aku suka tambahkan gula putih untuk mengentalkan), asam jawa dan garam. Rebus semuanya sampai mendidih, saring. Kalau kurang asam bs ditambah cuka.
Cara penyajian : Ada yang langsung disajikan tanpa digoreng (hobi suami), tapi mayoritas digoreng dahulu, dan sajikan empek-empek dengan cuko, timun dan taburi ebi yang dihaluskan.
Ini resep jauh dari sempurna, maklum kokinya Semarang aseli🙂 , yang penting konsumen dapur setiaku ( suami dan anak lanangku) sudah bilang enak, cukup bagiku…🙂
Selamat mencoba…